Empat Pilar Kemanusiaan: Dari Ajaran Agama hingga Amanat Konstitusi, Sulawesi Barat Bangkit untuk Palestina

Polewali Mandar– Sandeqnews.id – Sejarah perjuangan bangsa Indonesia mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak datang tiba-tiba. Ia adalah hasil dari proses panjang yang melewati banyak kegagalan, konflik internal, dan perjuangan yang semula bersifat lokal dan sporadis. Perlawanan rakyat Indonesia terhadap kolonialisme Belanda semula tidak terkoordinasi dan justru sering dimanfaatkan oleh penjajah dengan taktik adu domba (devide et impera). Salah satu contoh tragis dari strategi ini terjadi di Sulawesi, ketika dua tokoh besar—Sultan Hasanuddin dari Makassar dan Arung Palakka dari Bone—diprovokasi untuk saling berhadapan. Akibat perpecahan itu, kekuatan rakyat Sulawesi yang semula sangat ditakuti oleh Belanda menjadi lemah, dan wilayah yang kaya sumber daya ini pun jatuh ke tangan kolonial.

Sejarah mencatat bahwa perpecahan adalah pintu masuk utama bagi penjajahan. Dan sejarah itu terus berulang dalam bentuk yang lebih canggih di era modern—melalui imperialisme gaya baru, perang opini publik, infiltrasi media, dan hegemoni narasi global. Palestina hari ini menjadi korban paling nyata dari penjajahan yang dibungkus isu-isu agama dan sektarianisme. Namun sejatinya, ini adalah murni soal kemanusiaan: perampasan tanah, pembunuhan massal, pengusiran, dan penghinaan terhadap martabat manusia. Sayangnya, dunia masih terlalu bungkam. Bahkan di kalangan umat Islam sendiri, suara yang lantang sering kali terbelah oleh fanatisme mazhab dan konflik internal yang justru menggembirakan para penjajah.

Pertama, semua agama besar di dunia mengajarkan kepedulian terhadap sesama, terutama terhadap mereka yang tertindas dan dijajah. Dalam Islam, nilai hablum minannas (hubungan sosial sesama manusia) merupakan bagian dari ibadah. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ma’un: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1–3). Siapa pun yang menyepelekan aspek ini berarti mengingkari makna sejati agama itu sendiri.

Kedua, bangsa Indonesia punya hutang sejarah terhadap Palestina. Saat Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955, satu-satunya negara yang hadir namun belum merdeka hingga kini adalah Palestina. Semua negara yang hadir saat itu telah merdeka dan bangkit, kecuali Palestina yang masih terus berjuang di bawah penjajahan. Ini adalah luka bersama dan utang moral bangsa-bangsa merdeka terhadap Palestina.

Ketiga, amanat konstitusi Indonesia melalui Pembukaan UUD 1945 menegaskan bahwa “kemerdekaan ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” Ketika Indonesia berdiam diri atau pasif terhadap penjajahan di Palestina, kita sedang melupakan ruh dari konstitusi yang menjadi dasar berdirinya negara ini.

Keempat, Presiden pertama kita, Ir. Soekarno, adalah sosok yang paling lantang menolak penjajahan dalam bentuk apa pun. Ia bahkan menolak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Kutipannya yang terkenal berbunyi: “Selama bangsa Palestina belum merdeka, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel!” Bung Karno bukan hanya menolak secara diplomatis, tetapi juga secara ideologis menentang imperialisme modern dan neo-kolonialisme Barat yang terus menjajah bangsa-bangsa lemah melalui media, ekonomi, dan opini publik yang dikendalikan.

Bahaya besar justru muncul ketika media-media di Indonesia secara membabi buta mengutip narasi-narasi dari media mainstream Barat tanpa filter dan tanpa kesadaran kritis. Ini secara tak sadar telah memperkuat opini penjajah, memecah belah umat, dan memperlemah solidaritas dunia terhadap Palestina.

Hari ini, Sulawesi kembali menjadi bagian dari panggung kesadaran sejarah. tepatnya di Kampus STAIN Majene, pada tanggal 31 Mei 2025, akan digelar Pelatihan Gerakan Sosial dan Solidaritas Palestina. Ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan upaya menyusun kembali kesadaran rakyat, terutama pemuda, untuk memahami pentingnya gerakan yang terorganisir dan terpimpin dalam melawan kezaliman global. Pelatihan ini akan membekali peserta dengan pemahaman strategis tentang advokasi, pengorganisiran massa, narasi media, dan aksi solidaritas yang konstruktif.

Selain di Majene, pelatihan serupa dapat juga dilaksanakan di berbagai kampus yang ada di Sulawesi Barat, seperti di Polewali Mandar, Mamasa, Mamuju, Mamuju Tengah, dan Pasangkayu. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat spirit gerakan yang kolaboratif, terorganisir, dan terpimpin agar semakin menggema dan mengakar kuat di lingkungan akademik. Dengan keterlibatan aktif mahasiswa dan pemuda kampus, solidaritas untuk Palestina tidak hanya menjadi wacana, tetapi juga menjelma menjadi gerakan nyata yang berdampak luas.

Dari Majene, dari Sulawesi, dan dari bangsa yang dahulu pernah dijajah namun kini merdeka, mari kita kobarkan kembali obor solidaritas. Agar sejarah tidak berulang. Agar penjajahan benar-benar musnah dari muka bumi. Agar tangisan anak-anak Palestina menjadi suara yang menggugah nurani dunia

Tulisan ini lahir dari keprihatinan mendalam dan harapan besar agar keadilan dan kemanusiaan selalu menjadi pijakan dalam setiap langkah kita.

Supriadi pimpinan Redaksi SandeqNews

Share this content:

1 comment

comments user
Hamka

Mantap pak… Sangat menginspirasi

Post Comment