Membaca Iran dari Bedah Buku “Mengapa Saya Mengikuti Ali”: Kesaksian Prof. Dr. Basri Hasanuddin
Dalam sebuah forum bedah buku “Mengapa Saya Mengikuti Ali” yang digelar oleh Direktorat Hubungan Alumni dan Ikatan Keluarga Alumni Universitas Hasanuddin, perhatian publik tertuju pada satu kesaksian dari Prof. Dr. Basri Hasanuddin. Mantan Rektor Universitas Hasanuddin sekaligus eks Duta Besar RI untuk Iran itu menyampaikan pandangannya berdasarkan pengalaman langsung selama bertugas di Teheran.
Di tengah derasnya arus informasi global, cara kita memandang suatu negara kerap tidak lahir dari pengalaman empiris, melainkan dari konstruksi narasi yang dibentuk media, kepentingan geopolitik, dan persepsi yang terus berulang. Dalam konteks inilah kesaksian seorang diplomat yang pernah hidup langsung di Iran menjadi penting sebagai bahan pembanding.
Prof. Basri Hasanuddin dalam forum tersebut menegaskan bahwa pengalamannya selama empat tahun bertugas di Iran memberi kesan yang kuat terhadap kondisi sosial negara tersebut. Ia bahkan menyatakan bahwa selama masa tugasnya, ia tidak menemukan berbagai bentuk kriminalitas yang kerap diasosiasikan dengan negara dalam tekanan sanksi internasional.
Pernyataan tersebut tentu tidak berdiri sebagai kebenaran absolut, melainkan sebagai pengalaman personal seorang pejabat negara yang berada langsung dalam konteks sosial Iran. Dari sini, muncul ruang refleksi tentang bagaimana realitas sebuah negara sering kali lebih kompleks dibanding citra yang beredar secara global.
Iran sendiri selama beberapa dekade berada dalam tekanan embargo, sanksi ekonomi, dan posisi geopolitik yang cukup keras dalam percaturan internasional. Secara teori, kondisi tersebut sering diasosiasikan dengan potensi instabilitas sosial dan ekonomi.
Namun kesaksian yang disampaikan dalam forum tersebut justru membuka perspektif lain, bahwa realitas sosial di lapangan tidak selalu sejalan dengan asumsi umum yang berkembang. Di titik ini, pengalaman langsung menjadi penting sebagai penyeimbang dalam membaca suatu negara.
Lebih jauh, refleksi ini juga bersinggungan dengan tema besar buku yang dibedah, yakni “Mengapa Saya Mengikuti Ali”. Sosok Ali bin Abi Thalib dipahami bukan hanya sebagai figur sejarah, tetapi sebagai simbol nilai tentang keadilan, keberanian moral, dan keteguhan prinsip dalam menghadapi kekuasaan.
Dalam konteks itu, “mengikuti Ali” dapat dibaca sebagai sikap etis, bukan sekadar identitas teologis. Sebuah pilihan untuk tetap berpihak pada keadilan meski berada dalam tekanan situasi sosial maupun politik.
Kesaksian Prof. Basri kemudian dapat dipahami sebagai pintu masuk untuk melihat bagaimana nilai-nilai tersebut hidup dalam realitas sosial tertentu, tanpa harus jatuh pada glorifikasi ataupun penolakan sepihak.
Tentu tidak ada negara yang sempurna. Setiap masyarakat memiliki dinamika, tantangan, dan problematikanya sendiri. Namun cara kita membaca realitas sangat ditentukan oleh sumber pengetahuan yang kita gunakan: apakah hanya dari narasi luar, atau juga dari pengalaman langsung yang kemudian diuji secara rasional.
Pada akhirnya, forum bedah buku ini tidak hanya menghadirkan diskusi tentang Ali bin Abi Thalib sebagai tokoh sejarah, tetapi juga membuka ruang refleksi lebih luas tentang cara kita memahami dunia modern yang penuh bias informasi.
Kesaksian Prof. Dr. Basri Hasanuddin mengingatkan bahwa ketahanan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh aspek material, tetapi juga oleh nilai yang hidup dalam masyarakatnya. Selama nilai itu terjaga, tekanan eksternal tidak selalu berarti kehancuran sosial.
Dan di titik inilah, semangat Ali bin Abi Thalib tetap relevan sebagai simbol keberanian moral, keteguhan prinsip, dan martabat manusia dalam menghadapi ketidakadilan dalam berbagai bentuknya.
Supriadi, Redaksi Sandeq News
Share this content:




Post Comment