Dua Pekan yang Menggerakkan Desa: Pelajaran Kolaborasi Mahasiswa, Santri, dan Pemerintah Desa di Tonyaman
Oleh: Haikal Mahasiswa Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat STIKES Bina Bangsa Majene
Waktu dua minggu mungkin terasa singkat untuk menghadirkan sebuah perubahan. Namun, pengalaman mahasiswa Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat STIKES Bina Bangsa Majene (BBM) melalui Praktik Belajar Lapangan (PBL) di Desa Tonyaman menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu ditentukan oleh lamanya waktu, melainkan oleh kuatnya kolaborasi, ketulusan pengabdian, dan semangat gotong royong yang dibangun bersama masyarakat.
Selama empat belas hari, mahasiswa PBL tidak hanya menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga berupaya menghadirkan ruang kolaborasi yang mempertemukan tiga kekuatan utama, yaitu perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, pemerintah desa sebagai penggerak kebijakan, serta santri sebagai kekuatan moral dan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Sinergi inilah yang menjadi fondasi dalam mendorong peningkatan kesehatan lingkungan sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat.
Peran Pemerintah Desa Tonyaman menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan program. Dukungan berupa keterbukaan informasi, koordinasi yang baik, serta keterlibatan perangkat desa memberikan ruang bagi mahasiswa untuk melakukan identifikasi masalah kesehatan masyarakat, menyusun prioritas program, hingga melaksanakan berbagai intervensi yang disesuaikan dengan kebutuhan warga.
Di sisi lain, kehadiran para santri menghadirkan pendekatan yang lebih membumi. Edukasi kesehatan tidak hanya dilakukan melalui penyuluhan, tetapi juga diwujudkan dalam aksi nyata seperti kerja bakti membersihkan lingkungan bersama masyarakat. Keteladanan yang ditunjukkan mahasiswa dan santri menjadikan pesan-pesan kesehatan lebih mudah diterima karena lahir dari kebersamaan, bukan sekadar ajakan atau teori.
Bagi mahasiswa, Praktik Belajar Lapangan merupakan ruang belajar yang sesungguhnya. Berbagai teori yang dipelajari di bangku kuliah—mulai dari epidemiologi, promosi kesehatan, hingga kesehatan lingkungan—bertemu dengan realitas sosial di tengah masyarakat. Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa membangun perubahan memerlukan kemampuan mendengar, memahami kondisi warga, membangun komunikasi, serta menghadirkan solusi yang dapat dilaksanakan bersama.
Pengalaman di Desa Tonyaman juga memperlihatkan bahwa pembangunan kesehatan bukan semata tanggung jawab tenaga kesehatan atau pemerintah. Keterlibatan masyarakat, tokoh agama, lembaga pendidikan, dan pemerintah desa menjadi kekuatan yang saling melengkapi. Ketika setiap unsur menjalankan perannya secara bersama, upaya menciptakan lingkungan yang sehat akan lebih mudah diwujudkan dan berkelanjutan.
Kini masa Praktik Belajar Lapangan telah berakhir. Namun, semangat gotong royong, kepedulian sosial, dan kesadaran hidup sehat yang telah ditanamkan di Desa Tonyaman diharapkan terus tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Pengabdian yang sejati bukan hanya meninggalkan laporan kegiatan, tetapi juga meninggalkan inspirasi, kebiasaan baik, serta fondasi kemandirian yang dapat terus dirawat oleh warga. Dari Desa Tonyaman, kita belajar bahwa dua pekan yang dijalani dengan kolaborasi dan kepedulian mampu menjadi awal bagi perubahan yang lebih besar.
Share this content:




Post Comment