Suhardi Duka: Spirit Persaudaraan dan Ekonomi Rakyat dalam Sandeq Silumba
Lebih dari 400 pria pemberani mengarungi lautan. Sebanyak 55 perahu layar bercadik khas suku Mandar, sandeq, membelah samudra dalam empat etape. Dari Pantai Bahari Polewali hingga pesisir Pantai Manakarra, Mamuju, mereka berlayar dengan gagah.
Ratusan kapal bermesin turut mengiringi. Ribuan orang bergerak, dari Polewali, Pamboang, Sendana, Deking, hingga berakhir di Bumi Manakarra. Sandeq Silumba bukan sekadar adu cepat perahu tradisional. Ia adalah perhelatan akbar di Sulawesi Barat yang menyatukan semangat masyarakat pesisir.
Tahun ini, pelaksanaannya hadir dengan sentuhan baru. Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menaruh perhatian besar agar event ini berjalan sukses, sekaligus menjaga kelestarian budaya maritim orang Mandar. Sandeq Silumba bukan hanya lomba memperebutkan poin, melainkan juga simbol identitas dan kebanggaan.
Di balik layar putih yang membentang, saya melihat ada makna persaudaraan yang hidup. Sandeq Silumba mempertemukan masyarakat lintas daerah, mempererat silaturahmi, dan menghadirkan momen kebersamaan. Di tengah kompetisi, ada ruang berbagi kisah, bercengkerama, dan menunjukkan keramahan khas Mandar.
Tak hanya itu, event ini juga menggerakkan ekonomi rakyat. Ribuan pengunjung di setiap etape membuat UMKM bergeliat. Perputaran rupiah meningkat, pendapatan masyarakat bertambah, dan produk lokal lebih dikenal. Sandeq Silumba membuktikan budaya bisa berjalan seiring dengan kemajuan ekonomi.
Akhirnya, bagi saya, semua peserta adalah pemenang. Mereka adalah pelaut ulung Tanah Mandar yang berani menaklukkan gelombang. Apresiasi setinggi-tingginya untuk semua pihak yang bekerja keras mewujudkan event ini—pemerintah daerah, panitia, swasta, dan masyarakat.
Saya bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat akan terus mendukung agar Sandeq Silumba bertumbuh menjadi event kelas dunia. Semoga ikhtiar ini menjaga kebanggaan kita sebagai bangsa maritim, sekaligus memberi manfaat nyata bagi rakyat.
Share this content:




Post Comment