KAMMI di Persimpangan: Antara Kemandirian Organisasi dan Bayang-Bayang Politik
Menanggapi dinamika internal KAMMI yang terjadi belakangan ini, termasuk dualisme kepengurusan serta insiden dalam kegiatan alumni KAMMI (KAKAMMI) di Sumatera Utara, Ketua KAMMI Mandar Raya, Rifa’i Pattola, menilai bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar insiden biasa.
Menurutnya, hal itu mencerminkan kondisi organisasi yang sedang tumbuh besar, namun belum sepenuhnya diiringi dengan kedewasaan dalam mengelola perbedaan.
Sebagai organisasi ekstra kampus, KAMMI tidak bisa lepas dari dinamika dan perbedaan pandangan. Namun ketika perbedaan tersebut berubah menjadi bentrokan fisik, hal itu menunjukkan adanya kemunduran dalam pengelolaan nilai-nilai organisasi.
Ia menegaskan bahwa tindakan kekerasan dalam bentuk apa pun merupakan pelanggaran serius terhadap prinsip intelektualitas dan moralitas gerakan mahasiswa. Jika hal ini dibiarkan, maka KAMMI berpotensi merusak wibawanya sendiri dari dalam.
Lebih jauh, ia menilai bahwa KAMMI saat ini berada dalam fase pertumbuhan organisasi yang tidak diimbangi dengan kematangan kader. Kondisi ini berpotensi melahirkan konflik internal, ego sektoral, dan tarik-menarik kepentingan yang melemahkan fondasi perjuangan.
Dalam pandangannya, KAMMI juga perlu meninjau ulang relasi yang selama ini terbangun dengan kekuatan politik. Ia menilai bahwa kedekatan yang tidak terkelola secara sehat dapat melahirkan persepsi publik bahwa KAMMI tidak sepenuhnya independen.
Kondisi tersebut, menurutnya, harus menjadi perhatian serius agar KAMMI tetap berdiri sebagai organisasi mahasiswa yang merdeka, bukan alat politik, bukan underbow, dan bukan ruang titipan kepentingan tertentu.
Ia juga mengingatkan agar kader KAMMI tidak larut dalam politik praktis yang dapat mengaburkan arah perjuangan gerakan mahasiswa. Ketika orientasi bergeser menjadi kepentingan politik sempit, maka yang terdampak bukan hanya individu, tetapi juga kehormatan organisasi secara keseluruhan.
Rifa’i kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan reflektif kepada kader KAMMI: apakah organisasi ini masih murni gerakan mahasiswa, atau telah berada dalam orbit kekuatan politik tertentu? Siapa yang sebenarnya diuntungkan dari relasi tersebut? Dan apakah ideologi politik tertentu menjadi ukuran kebenaran dalam bergerak?
Ia menilai bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dijawab secara jujur oleh seluruh kader, bukan dihindari.
Di sisi lain, ia menyerukan agar konflik internal yang terjadi segera dihentikan. Menurutnya, tidak ada kemenangan dalam bentrokan, dan tidak ada kemuliaan dalam perpecahan. Yang ada hanyalah kerugian organisasi dan menurunnya kepercayaan publik.
Ia menekankan pentingnya rekonsiliasi, dialog, dan penguatan kembali ukhuwah internal. Perbedaan, menurutnya, harus diselesaikan dengan kedewasaan, bukan dengan emosi maupun kekerasan.
Menutup pernyataannya, ia menegaskan bahwa jika KAMMI ingin menjadi organisasi besar, maka kemandirian, ketegasan terhadap penyimpangan, dan keberanian keluar dari bayang-bayang politik menjadi syarat mutlak.
Jika tidak, maka kebesaran KAMMI hanya akan menjadi ilusi: besar dalam nama, tetapi rapuh dalam prinsip.
Penulis: Rifa’i Pattola – Ketua KAMMI Mandar Raya
Share this content:




Post Comment