Workshop Infassing PGIN Angkat Isu Moderasi Beragama

Polewali Mandar – sandeqnews.id- Semangat kebersamaan dan kecintaan pada nilai-nilai toleransi tergambar jelas dalam Workshop Perkumpulan Guru Infassing Nasional (PGIN) yang digelar di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Polewali Mandar. Mengangkat tema Moderasi Beragama, kegiatan ini menjadi ruang refleksi dan penguatan pemahaman bagi para guru dari berbagai kecamatan, bahkan dari luar daerah seperti Majene.

Acara ini menghadirkan Narjus, S.Pd.I., M.Pd., Pengawas Pendidikan pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Polewali Mandar, sebagai pemateri utama. Dalam penyampaiannya, Narjus tidak sekadar menyampaikan teori, tetapi mengajak peserta menelaah secara kritis dan mendalam akar pentingnya Moderasi Beragama di tengah masyarakat yang majemuk seperti Indonesia.

“Moderasi Beragama bukanlah upaya untuk mencairkan prinsip agama menjadi netral, melainkan cara adil dan bijak dalam mengamalkan ajaran agama tanpa terjebak dalam sikap ekstrem—baik ekstrem kanan maupun kiri,” tegas Narjus.

Ia menekankan bahwa dalam sejarah agama mana pun, munculnya konflik sosial keagamaan kerap disebabkan oleh pemahaman yang sempit dan eksklusif terhadap ajaran agama. Oleh karena itu, ia mengajak para pendidik untuk menjadi pelaku aktif dalam membangun suasana keberagamaan yang ramah, terbuka, dan menghargai perbedaan.

“Dalam Islam, dalil aqli (rasional) dan naqli (wahyu) berjalan beriringan. Moderasi tidak hanya memiliki dasar sosiologis, tetapi juga teologis. Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menyerukan keadilan, kebijaksanaan, dan keseimbangan dalam menjalankan agama,” lanjutnya.

Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 143, “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang wasath (moderat), agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas kamu.” Ayat ini, menurut Narjus, menjadi pondasi kuat bahwa Islam sejak awal mengajarkan keseimbangan dan menjauhi sikap berlebih-lebihan.

Dalam konteks pendidikan, Moderasi Beragama menjadi sangat penting karena guru adalah aktor strategis yang membentuk karakter dan pola pikir anak-anak bangsa. Guru yang mampu menanamkan nilai toleransi, empati, dan keterbukaan akan melahirkan generasi yang cinta damai dan mampu hidup harmonis di tengah perbedaan.

Sesi diskusi pun berjalan sangat interaktif. Para guru menyampaikan berbagai tantangan di lapangan, mulai dari keberagaman pemahaman agama di kalangan siswa, hingga potensi konflik antarorang tua murid yang berbeda latar belakang. Narjus merespons dengan menekankan pentingnya metode pengajaran yang dialogis dan menghindari indoktrinasi yang sempit.

“Bukan tugas guru untuk memaksakan kebenaran versinya, melainkan membuka ruang bagi siswa berpikir kritis, memahami keyakinan dengan bijak, dan tetap menghormati keberagaman yang ada,” ujarnya.

Workshop ini menjadi lebih hidup karena peserta dari berbagai latar belakang wilayah turut menyumbangkan perspektif lokal. Seorang guru dari Majene mengaku bahwa kegiatan ini membuka kesadarannya bahwa sikap moderat bukan berarti lemah dalam prinsip, tetapi justru memperkuat nilai-nilai agama dalam ruang sosial yang damai.

Dalam sesi tanya jawab, muncul sebuah pertanyaan kritis dari salah satu peserta terkait penerapan nyata Moderasi Beragama di tengah dinamika global umat Islam. Ia menyoroti bahwa dalam konflik Palestina-Israel, justru Iran—yang kerap disudutkan karena perbedaan mazhab—yang paling lantang menyuarakan dan mengambil tindakan nyata. Sementara sebagian besar negara Muslim lainnya memilih diam atau sekadar mengecam. Bahkan, menurutnya, masih ada kalangan di internal umat yang lebih sibuk mengungkit perbedaan mazhab daripada bersatu melawan ketidakadilan global.

“Kalau kita sendiri masih terjebak dalam sikap saling menyudutkan hanya karena perbedaan mazhab, dan tidak bisa bersikap adil terhadap upaya perlawanan yang nyata seperti yang dilakukan Iran terhadap Israel, apakah kita sungguh-sungguh telah mempraktikkan moderasi?” tanyanya, disambut anggukan serius dari beberapa peserta.

Menanggapi hal itu, Narjus menekankan bahwa Moderasi Beragama bukan berarti bersikap netral terhadap kezaliman atau menutup mata terhadap perjuangan keadilan. Justru, dalam moderasi yang sejati, ada keberanian untuk bersikap adil dan tegas terhadap pelanggaran kemanusiaan, apapun latar belakang pelakunya.

“Moderasi tidak sama dengan kompromi terhadap kebatilan. Ia adalah jalan tengah antara fanatisme yang membutakan dan liberalisme yang mencairkan prinsip. Dalam konteks Palestina, keberpihakan terhadap yang tertindas adalah bagian dari nilai keadilan yang diajarkan agama,” tegasnya.

Ketua Panitia, Muhammad Idris, menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal penguatan nilai-nilai moderasi di kalangan guru Infassing. “Kami ingin para guru menjadi agen perubahan, yang menanamkan nilai kebhinekaan bukan hanya lewat kata, tapi lewat tindakan dan teladan,” ujarnya. Sekretaris panitia, Supriadi, menambahkan bahwa kerja-kerja moderasi harus dibawa hingga ke ruang kelas, karena dari sanalah karakter bangsa dibentuk sejak dini.

Dengan semangat dan partisipasi aktif dari seluruh peserta, workshop ini bukan hanya menjadi ajang pelatihan, tetapi juga ruang konsolidasi pemahaman bersama bahwa moderasi adalah jalan utama menuju Indonesia yang rukun, adil, dan damai.

Share this content:

Post Comment