Koperasi Produsen HKTI Siap Dampingi Petani dan Nelayan dari Produksi hingga Pemasaran
Jakarta–sandeqnews.id— Koperasi Produsen Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (KP‑HKTI) resmi diluncurkan sebagai upaya memperkuat ekonomi petani dan nelayan melalui pengelolaan rantai pasok yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Koperasi yang berdiri pada 17 Maret 2026 itu diperkenalkan secara resmi bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) HKTI ke‑53 pada 27 April 2026. Kehadiran KP‑HKTI diharapkan menjadi wadah bagi petani dan nelayan untuk meningkatkan daya saing, nilai tambah produk, serta memperluas akses pasar.
Ketua Umum KP‑HKTI Diana Widi Astuti mengatakan koperasi tersebut dibangun di atas dua fondasi utama, yakni kekuatan anggota dan kolaborasi multipihak. Menurutnya, petani dan nelayan bukan hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pemilik sekaligus penggerak utama koperasi. Dengan model tersebut, anggota diharapkan memiliki peran yang lebih besar dalam menentukan arah dan pengembangan usaha bersama.
Diana menjelaskan KP‑HKTI berfokus pada pendampingan petani dan nelayan sejak tahap produksi. Dukungan yang diberikan meliputi akses terhadap benih unggul, pupuk, pakan, alat tangkap yang memenuhi standar, hingga pendampingan teknis. Selain itu, koperasi juga berupaya menyerap hasil panen dan hasil tangkapan anggota berdasarkan kesepakatan yang dibangun bersama, sehingga memberikan kepastian pasar bagi para pelaku usaha di sektor pertanian dan perikanan.
Tidak hanya berhenti pada proses produksi, KP‑HKTI juga menargetkan penguatan sektor hilir melalui pengolahan, pengemasan, dan pemasaran produk. Hasil pertanian dan perikanan anggota direncanakan dapat dipasarkan ke berbagai segmen, mulai dari pasar rakyat, pasar modern, restoran, hingga pasar ekspor. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperluas peluang usaha bagi petani dan nelayan di berbagai daerah.
Sementara itu, Sekretaris Umum KP‑HKTI Florencio Mario Vieira menegaskan bahwa pengembangan koperasi memerlukan dukungan banyak pihak. Karena itu, KP‑HKTI membuka ruang kerja sama dengan pemerintah, sektor swasta, akademisi, perbankan, dan pegiat teknologi. Menurutnya, kolaborasi tersebut penting untuk memperkuat integrasi rantai pasok, memperluas akses pembiayaan, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta mendorong pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan usaha koperasi.
Di sisi lain, Bendahara Umum KP‑HKTI Juniusco Cuaca menilai model usaha yang dikembangkan koperasi dapat membantu mempersingkat rantai distribusi yang selama ini dinilai mengurangi nilai ekonomi yang diterima petani dan nelayan. Dengan penguatan sektor hulu dan hilir secara terintegrasi, manfaat ekonomi diharapkan lebih banyak kembali kepada anggota melalui harga jual yang lebih baik, peningkatan sisa hasil usaha, serta peluang masuk ke pasar yang lebih luas. KP‑HKTI juga membuka kesempatan bagi kelompok tani, koperasi nelayan, gabungan kelompok tani (gapoktan), dan BUMDesa untuk bergabung dalam membangun ekonomi kerakyatan yang mendukung ketahanan pangan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Share this content:




Post Comment