DKPPKB Sulbar Genjot Vaksinasi Dokter Internsip, Antisipasi Risiko KLB Campak

Mamuju – sandeqnews.id—Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat melalui Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) menggelar koordinasi pemberian vaksin campak bagi dokter internsip se-Sulawesi Barat, Selasa (14/4/2026). Langkah ini dilakukan untuk memperkuat perlindungan tenaga kesehatan sekaligus mencegah penyebaran penyakit menular di fasilitas layanan kesehatan.

Upaya tersebut juga sejalan dengan program peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang menjadi prioritas pembangunan daerah. Tenaga kesehatan sebagai garda terdepan dinilai perlu mendapat perlindungan optimal agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan maksimal.

Dalam kegiatan itu, DKPPKB memaparkan capaian imunisasi Campak-Rubella (MR) yang menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, cakupan MR1 mencapai 83,1 persen dan MR2 sebesar 59,1 persen, namun menurun pada 2024 menjadi 63,7 persen dan 52,9 persen.

Penurunan tersebut berlanjut pada 2025 dengan capaian MR1 sebesar 54,0 persen dan MR2 sebesar 45,1 persen. Bahkan pada 2026 hingga triwulan pertama, capaian masih sangat rendah, masing-masing MR1 6,0 persen dan MR2 4,6 persen, sehingga meningkatkan risiko penularan campak.

Selain itu, data capaian absolut juga menunjukkan kesenjangan yang cukup besar antara target dan realisasi. Ketua Tim Kerja Surveilans, Imunisasi, dan Kesehatan Haji, Muslimin, menekankan pentingnya peran tenaga dokter serta koordinasi lintas sektor dalam meningkatkan cakupan imunisasi.

Kepala DKPPKB Sulbar, dr. Nursyamsi Rahim, menyampaikan bahwa dokter internsip memiliki risiko tinggi terhadap paparan infeksi. Pemberian vaksin campak ini menjadi langkah penting untuk melindungi tenaga kesehatan sekaligus mendukung upaya pencegahan KLB di Sulawesi Barat.

Share this content:

Post Comment