Mengapa Gerakan Harus Terorganisir dan Terpimpin: Pelajaran dari Sejarah dan Tanggung Jawab Masa Kini

Majene- sandeqnews.id –Di era informasi yang sangat cepat dan liar seperti hari ini, gerakan sosial yang tidak terorganisir hanya akan menjadi riuh yang membingungkan. Banyak informasi simpang siur, bahkan hoaks yang disusupi oleh musuh-musuh kebenaran. Akibatnya, publik menjadi jenuh, skeptis, bahkan apatis. Maka dari itu, kita tidak bisa bergerak asal-asalan. Dibutuhkan sistem kerja yang terorganisir dan terpimpin agar gerakan ini bukan sekadar suara lepas, tapi menjadi gelombang kesadaran yang terarah.

Kita bisa belajar dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah. Sebelum adanya koordinasi yang baik, berbagai perlawanan rakyat seperti Perang Padri di Sumatera Barat, Perang Diponegoro di Jawa, dan Perang Banjar di Kalimantan muncul secara sporadis dan tanpa kesatuan strategi. Meski penuh semangat dan keberanian, gerakan-gerakan itu mudah dipatahkan karena tidak memiliki koordinasi nasional. Hal ini menyadarkan para pemuda Indonesia untuk menghimpun kekuatan dalam wadah organisasi. Lahirnya Budi Utomo (1908), Indische Partij (1912), dan Perhimpunan Indonesia di Belanda adalah bukti kesadaran bahwa perjuangan harus disatukan dalam visi dan strategi yang terstruktur.

Pemuda-pemuda dari berbagai daerah seperti Jong Java, Jong Sumatra, Jong Celebes, Jong Ambon, hingga Jong Islamieten Bond, meski berbeda latar belakang suku, agama, dan bahasa, mampu duduk bersama dan mencetuskan Sumpah Pemuda tahun 1928. Padahal saat itu, tidak ada Zoom, tidak ada WhatsApp, bahkan akses transportasi pun terbatas. Namun semangat koordinasi mereka menjadi bukti bahwa kesatuan gerakan adalah kunci keberhasilan perjuangan.

Hari ini, dalam perjuangan membela Palestina dan bangsa-bangsa tertindas lainnya, semangat yang sama harus kita hidupkan. Kita tidak bisa bertindak sendirian, sesuka hati, lalu berharap akan ada perubahan besar. Perlu ada sistem yang mengatur alur gerakan dengan rapi.

Di komunitas FPN (Free Palestine Network), inilah yang sedang kami bangun. FPN bukan sekadar kumpulan aktivis, tapi jaringan yang terorganisir dan belajar bersama. Kami memiliki tim penyaring informasi yang bertugas menyeleksi berita dari luar, memastikan kebenarannya, dan hanya menyebarkan informasi yang steril dari hoaks. Kami punya tim penulis yang merumuskan narasi secara strategis. Kami juga punya tim komentator yang memperkuat setiap konten dengan opini dan ulasan tajam. Dengan sistem ini, kita tidak lagi bingung atau ragu terhadap informasi yang kita sebarkan. Semuanya saling mendukung.

Dalam struktur FPN, posisi Sekretaris Jenderal (Sekjen) berada di tingkat pusat sebagai simpul koordinasi nasional. Sekjen bertugas mengoordinasikan semua koordinator di berbagai lini dan wilayah, mulai dari koordinator daerah, koordinator mahasiswa, koordinator seni, hingga koordinator paguyuban dan komunitas lainnya. Dengan sistem ini, setiap lini bisa bergerak secara otonom namun tetap dalam satu kesatuan visi dan strategi nasional.

Bahkan, FPN secara terbuka mengajak, mengoordinasikan, dan membentuk jaringan FPN di berbagai kampus di seluruh dunia. Mahasiswa adalah kekuatan moral dan intelektual yang memiliki keberanian untuk berdiri di pihak yang benar. FPN ingin menjadi wadah global bagi mahasiswa dari berbagai negara yang membela hak-hak kemerdekaan Palestina dan menentang segala bentuk imperialisme dan kolonialisme. Ini adalah gerakan yang melintasi batas negara, agama, dan ideologi, demi kemanusiaan yang adil dan beradab.

Di FPN juga rutin digelar workshop dan diskusi daring. Kita belajar bersama tentang sejarah, strategi perjuangan, hingga praktik propaganda digital. Tidak ada istilah senior-junior di sini. Tidak ada yang lebih hebat hanya karena lama bergabung. Namun tetap ada struktur fungsional untuk menjamin arah dan sinergi gerakan. Kita percaya, setiap peran sama pentingnya: yang di depan layar, di balik layar, maupun yang bergerak di akar rumput.

Gerakan ini bukan tentang siapa yang paling menonjol. Tapi tentang siapa yang paling ikhlas, paling konsisten, dan mau mengambil peran. Satu misi, satu tujuan: membela hak-hak bangsa Palestina dan semua bangsa yang masih terjajah.

Kita tidak anti kritik, tapi anti kemalasan. Kita tidak mengejar panggung, tapi mencari kebenaran. Maka, mari kita satukan langkah. Bukan hanya ramai di medsos, tapi rapi di barisan. Sebab dalam sejarah, kemenangan selalu berpihak pada mereka yang terorganisir.

Struktur dan Divisi Inti FPN (Free Palestine Network)

1. Sekretaris Jenderal (Sekjen Nasional)Sebagai pusat koordinasi nasional, memimpin sinergi antar-koordinator dari semua lini dan wilayah di seluruh Indonesia.

2. Koordinator Lini & Wilayah

Koordinator Daerah

Koordinator Mahasiswa

Koordinator Seni & Budaya

Koordinator Paguyuban & Komunitas(dan berbagai lini lainnya sesuai kebutuhan perjuangan)

3. SekretariatAdministrasi & DokumentasiKomunikasi InternalPublikasi & Notulensi

4. Divisi ProgramWorkshop & PendidikanKampanye DigitalAksi Sosial & Kemanusiaan

5. Divisi JaringanKemitraan EksternalPerluasan Wilayah dan Internasionalisasi Gerakan

6. Divisi KaderisasiPenerimaan Anggota BaruPembinaan & Pengembangan

Oleh Supriadi Kordinator Free Palestine ( FPN) Kab Polewali Mandar

Share this content:

Post Comment