Aisyiyah Sulbar Rayakan Milad ke 109 di Majene, Kokohkan Dakwah Kemanusiaan dan Perdamaian
Majene–sandeqnews.id– Resepsi Milad ke-109 ‘Aisyiyah tingkat Wilayah Sulawesi Barat (Sulbar) berlangsung di Aula Masjid BPMP Provinsi Sulawesi Barat, Kabupaten Majene, pada Senin, 14 Juni 2026. Kegiatan ini mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian” dan dihadiri sekitar 300 peserta dari seluruh 6 kabupaten se-Sulawesi Barat.
Resepsi milad ini tidak hanya menjadi seremoni, melainkan juga ruang refleksi atas perjalanan panjang ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Islam berkemajuan yang telah berumur lebih dari satu abad. ‘Aisyiyah menegaskan komitmennya untuk terus menjawab berbagai persoalan kemanusiaan melalui gerakan pendidikan, penguatan keluarga, pendampingan hukum, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan kepedulian terhadap kelompok rentan.
Hj. Sunarti Marlianti, SH., M.Kn. Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulawesi Barat Dalam pidatonya menegaskan lebih dari satu abad, ‘Aisyiyah telah menapaki jalan dakwah dengan penuh keteguhan, menghadirkan pencerahan, pemberdayaan, dan pelayanan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan universal. Milad ke-109 ini mengangkat tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian”. Tema ini sangat relevan dengan tantangan kehidupan yang kita hadapi saat ini. Dunia masih diwarnai oleh berbagai konflik, ketimpangan sosial, krisis kemanusiaan, kerusakan lingkungan, serta berbagai bentuk kekerasan yang mengancam martabat manusia.
Surnarti menyatakan dalam situasi seperti ini, dakwah Islam tidak cukup hanya dipahami sebagai penyampaian ajaran secara verbal, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa rahmat, keadilan, kasih sayang, dan kedamaian bagi seluruh umat manusia. “Sejak didirikan oleh Siti Walidah pada 19 Mei 1917, ‘Aisyiyah telah menunjukkan bahwa dakwah dan kemanusiaan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Melalui pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan pembinaan keluarga, ‘Aisyiyah telah menghadirkan dakwah yang menyentuh kehidupan masyarakat secara nyata,” tegasnya.
Sunarti menegaskan dakwah kemanusiaan yang diperjuangkan ‘Aisyiyah adalah dakwah yang menghargai harkat dan martabat manusia tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, maupun latar belakang sosial. Dakwah yang mengedepankan dialog, empati, dan kerja sama untuk menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan. Dakwah yang menumbuhkan harapan dan menghadirkan solusi. “Perdamaian yang kita cita-citakan bukan sekadar tidak adanya konflik, tetapi kondisi ketika keadilan ditegakkan, hak-hak manusia dihormati, dan setiap orang memiliki kesempatan untuk hidup secara bermartabat. Karena itu, membangun perdamaian harus dimulai dari keluarga, sekolah, komunitas, dan lingkungan sekitar kita,” tegasnya.
Ketua PW Aisyiyah Sulbar menjelaskan bahwa pada usia ke-109 tahun ini, ‘Aisyiyah perlu terus memperkuat komitmen untuk: (1) Mengembangkan dakwah yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan dan kemaslahatan. (2) Meningkatkan kualitas pendidikan yang membentuk generasi berkarakter, toleran dan cinta damai. (3) Memperluas pelayanan kesehatan dan sosial bagi kelompok rentan. (4) Memperkuat pemberdayaan ekonomi perempuan dan keluarga. (5) Berpartisipasi aktif dalam upaya penyelesaian persoalan kemanusiaan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. (6) Menumbuhkan kesadaran menjaga lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab kemanusiaan dan keagamaan. Kita percaya bahwa perdamaian yang sejati hanya dapat terwujud apabila setiap individu, keluarga, dan masyarakat memiliki kepedulian terhadap sesama serta menjunjung tinggi nilai keadilan dan kemanusiaan.
Wakil Bupati Majene Dr. Hj. Andi Rita Mariani Bashar, M.Pd., menghadiri langsung puncak peringatan Milad ‘Aisyiyah. Ia menyampaikan apresiasi atas kepercayaan menjadikan Majene sebagai tuan rumah tingkat provinsi. “Terima kasih kepada Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulbar atas terpilihnya Kabupaten Majene sebagai lokasi pelaksanaan Milad ke-109 ‘Aisyiyah. Kehadiran bapak dan ibu sekalian tentu memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” ungkapnya.
Andi Rita Mariani Basha dalam sambutannya mengajak Kader ‘Aisyiyah Sulbar untuk berkerja bersama dalam penanganan stunting sebagai salah satu prioritas pembangunan daerah. Ia menilai keterlibatan organisasi keagamaan, khususnya organisasi perempuan seperti ‘Aisyiyah, sangat strategis dalam upaya percepatan penurunan stunting. Menurutnya, pemantauan rutin di Posyandu harus terus dilakukan setiap bulan untuk memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal. Data mengenai jumlah sasaran, kenaikan maupun penurunan berat badan balita perlu dipantau secara berkala agar intervensi yang tepat dapat segera dilakukan.
la menjelaskan bahwa stunting tidak semata-mata berkaitan dengan tinggi badan anak. Anak yang bertubuh pendek belum tentu mengalami stunting. Namun, stunting dapat berdampak serius terhadap perkembangan otak dan kualitas sumber daya manusia di masa depan, serta meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti jantung. “Kalau hanya fisik, banyak orang bertubuh pendek yang cerdas. Tetapi jika perkembangan otaknya terganggu, itu yang berbahaya karena akan mempengaruhi kualitas hidup dan produktivitas di masa depan,” jelasnya.
Dr. KH.Wahyun Mawardi, S.Ag., M.Pd. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Barat. Ia mengapresiasi capaian ‘Aisyiyah Sulbar dan tak pernah lelah dalam menjalankan dakwah kemanusiaan dan aksi nyata di masyarakat, ‘Aisyiyah yang hari ini genap 109 tahun. 19 Mei 1917 Masehi – 19 Mei 2026 Masehi. 109 tahun bukan waktu sebentar. 109 tahun ‘Aisyiyah istiqamah jadi “sayap kiri” Muhammadiyah yang tak pernah lelah. “Dari Sopo, Kotagede Yogyakarta sampai ke Majene, Mamuju, Polewali, Pasangkayu, Mamasa, dan Mamuju Tengah. Dari Nyai Ahmad Dahlan, Nyai Walidah, sampai Ibu-ibu ‘Aisyiyah Sulbar hari ini. Tongkat estafet itu sudah sampai di tangan. Dan jaga dengan sangat baik,”.
Wahyun Mawardi menjelaskan bawah Gerakan Perempuan Berkemajuan adalah mesin dalam Muhammadiyah untuk menggerakan misi “memajukan umat”, menurutnya ada tiga amal besar ‘Aisyiyah selama 109 tahun yang dalapt dibuktikan : Amal pertama, Bidang Pendidikan: Dulu perempuan dilarang sekolah. ‘Aisyiyah buka TK, SD, SMP, SMA, sampai Perguruan Tinggi. Hari ini ribuan anak perempuan Sulbar bisa baca tulis, jadi guru, dokter, dosen, karena ada ‘Aisyiyah. Itu jihad akbar. Amal Kedua, Bidang Sosial-Kesehatan: Dari zaman wabah sampai pandemi, ‘Aisyiyah terdepan. Posyandu, Rumah Sakit, Panti Asuhan, Lembaga Zakat. ‘Aisyiyah ajarkan: perempuan kuat itu bukan yang teriak, tapi yang turun tangan. Amal Kegita, Bidang Dakwah & Keluarga Sakinah: ‘Aisyiyah selamatkan keluarga dari narkoba, KDRT, stunting, HP. Lewat majelis taklim, parenting, kajian. Karena ‘Aisyiyah paham kalau ingin memperbaiki bangsa, mulai dari perbaiki Ibu.
Muhammadiyah Sulbar menitip untuk ‘Aisyiyah SulbarPesan PWM untuk ‘Aisyiyah Sulbar di Usia 109 Tahun, Usia 109 itu usia “emas”. Sudah matang, tapi harus tetap lincah. Muhammadiyah Sulbar menitip tiga pesan:1.Kembali ke Khittah: ‘Aisyiyah lahir bukan untuk politik praktis, tapi untuk dakwah. Jaga marwah. Jaga independensi. Tetap jadi mitra kritis Muhammadiyah, bukan “ban serep”.2.Hadapi Tantangan Zaman: Tantangan hari ini beda dengan 1917. Dulu musuhnya kebodohan. Sekarang musuhnya: gadget, judi online, LGBT, radikalisme, stunting. ‘Aisyiyah harus jadi garda terdepan. Kuatkan digitalisasi, kuatkan kajian tafsir tematik perempuan, kuatkan ekonomi ummat lewat UMKM.3.Regenerasi Tanpa Henti: 109 tahun butuh kader baru. Jangan sampai ‘Aisyiyah jadi organisasi “Ibu-ibu saja”. Ajak anak muda, ajak mahasiswi, ajak pelajar. Bentuk ‘Aisyiyah Muda yang kreatif. Karena masa depan ‘Aisyiyah ada di tangan mereka.
Komitmen PWM Sulbar Muhammadiyah tidak akan pernah besar tanpa ‘Aisyiyah. Maka komitmen kami kepada ‘Aisyiyah: Komitmen pertama yakni Anggaran, bahwa anggaran setiap program PWM wajib ada porsi untuk ‘Aisyiyah. Kedua Sinergi: Semua Amal Usaha Muhammadiyah wajib buka pintu selebar-lebarnya untuk program ‘Aisyiyah. Komitmen Ketiga, Apresiasi: Kami catat, kami doakan, kami sebarluaskan amal Ibu-ibu ke seluruh persyarikatan. Komitmen Keempat Tantangan 110 tahun ke depan lebih berat. Tapi saya yakin. Karena Ibu-ibu ‘Aisyiyah itu seperti “bidadari bumi”. Lembut tapi baja. Sabar tapi berani. Di rumah jadi madrasah pertama, di masyarakat jadi suluh peradaban.
Acara ini dihadiri oleh Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulawesi Barat, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Barat, Wakil Bupati Majene. Turut hadir pula Rektor Universitas Muhammadiyah Mamuju, Rektor Institut ‘Teknologi & Bisnis Muhammadiyah Polewali Mandar beserta jajaran, pimpinan amal usaha Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, organisasi otonom Muhammadiyah tingkat wilayah, organisasi perempuan Islam, serta para Pimpinan Daerah, Cabang, dan Ranting ‘Aisyiyah se-Sulawesi Barat.
Melalui Milad ke-109 ini, ‘Aisyiyah Sulawesi Barat kembali menegaskan bahwa dakwah kemanusiaan harus diwujudkan melalui kerja nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, pendampingan hukum, penguatan keluarga, dan pelestarian lingkungan menjadi bagian dari ikhtiar ‘Aisyiyah untuk membangun perdamaian dan peradaban yang berkemajuan.
Share this content:




Post Comment