Kakanwil Kemenag Sulbar Tekankan Metodologi Pembelajaran dan Akhlakul Karimah dalam Peringatan Maulid di MIN 3 Bussu

Polewali Mandar – sandeqnews.id — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di MIN 3 Bussu, Kecamatan Tapango, Kabupaten Polewali Mandar, Kamis (15/10/2026), menjadi momentum penguatan kualitas pendidikan dan pembentukan karakter peserta didik. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, Dr. H. Adnan Nota, M.A., yang hadir sebagai penceramah Maulid, menyampaikan sejumlah pesan penting kepada para kepala sekolah dan guru, khususnya mengenai metodologi pembelajaran, pencapaian hasil belajar, serta keteladanan akhlak Rasulullah SAW.

Dalam sambutannya, Adnan Nota menekankan pentingnya guru memahami metodologi pembelajaran yang tepat dalam mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Menurutnya, hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang belum sesuai harapan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pendidik, termasuk untuk menilai apakah metode pembelajaran yang digunakan sudah tepat dan mampu membantu siswa memahami materi. Ia juga mengingatkan para guru, khususnya aparatur sipil negara (ASN) berstatus PNS dan PPPK, agar berfokus pada pencapaian tujuan pembelajaran dalam setiap proses pendidikan.

Pada bagian lain, Adnan mengangkat pemikiran Michael H. Hart, penulis buku The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History, yang menempatkan Nabi Muhammad SAW pada urutan pertama dalam daftar tokoh paling berpengaruh dalam sejarah. Pembahasan tersebut menjadi pengantar untuk menegaskan keteladanan Rasulullah SAW yang tidak hanya menyampaikan risalah melalui perkataan, tetapi juga memperlihatkan ajarannya melalui perilaku. Keselarasan antara ucapan dan perbuatan itulah yang menjadi pelajaran penting bagi guru dalam mendidik generasi muda.

Adnan menegaskan bahwa akhlakul karimah merupakan fondasi utama dalam kehidupan. Menurut pesan yang disampaikannya, ketika akhlak mulia telah tertanam dengan baik dan tercermin dalam perilaku seseorang, berbagai hal yang menjadi perhatian dalam pendidikan, seperti pembentukan karakter, moderasi beragama, sikap terhadap perbedaan agama dan mazhab, hingga ekoteologi, pada dasarnya telah tercakup dalam pengamalan akhlak tersebut. Artinya, nilai-nilai itu tidak cukup hanya dipahami sebagai materi pembelajaran, tetapi harus terwujud dalam perilaku sehari-hari. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Ahzab ayat 21 yang menegaskan bahwa Rasulullah SAW merupakan uswatun hasanah, yakni teladan yang baik. “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Adnan juga menekankan bahwa ajaran Islam memiliki nilai solutif dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Karena itu, madrasah mulai dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA) diharapkan memiliki ciri khas pendidikan yang memadukan penguasaan ilmu pengetahuan dengan pembiasaan akhlakul karimah. Nilai-nilai tersebut perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan madrasah, baik melalui pembelajaran, interaksi antarsiswa, maupun keteladanan para guru.

Kegiatan tersebut dihadiri para kepala Madrasah dan guru, unsur DDI, serta jajaran Kementerian Agama. Peringatan Maulid ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari penguasaan materi dan capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan pendidik menanamkan nilai-nilai kebaikan melalui contoh nyata. Dengan demikian, ilmu pengetahuan dan akhlakul karimah dapat tumbuh beriringan sebagai bekal peserta didik dalam kehidupan bermasyarakat.

Share this content:

Post Comment