Tradisi Doa Usai Sholat Id di Mapilli, Penuh Syukur, Harapan, dan Tolak Bala
Mapilli- sandeqnews.id— Di tengah suasana Hari Raya Idul Fitri yang penuh kebahagiaan, sebuah tradisi sederhana namun sarat makna terlihat di Dusun Pullipe, Desa Bonne-Bonne, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar. Usai pelaksanaan Sholat Id, warga berkumpul dalam suasana khidmat untuk memanjatkan doa bersama sebelum menikmati hidangan.
Di antara mereka, tampak Ibu Sitti Ruqiah (61), seorang ibu rumah tangga yang dengan khusyuk memimpin doa. Dengan tangan menengadah, ia memanjatkan harapan dan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT setelah menjalani ibadah puasa Ramadan selama sebulan penuh.
Menurutnya, berdoa di hadapan hidangan bukanlah bentuk menyembah makanan, melainkan wujud rasa syukur atas rezeki, sekaligus harapan agar apa yang dikonsumsi membawa keberkahan bagi seluruh keluarga.
“Ini bentuk syukur kita. Setelah menahan lapar, menjaga diri selama Ramadan, kita memohon agar semua yang kita lalui menjadi berkah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, doa yang dipanjatkan tidak hanya sebagai ungkapan syukur, tetapi juga berisi permohonan keselamatan dunia dan akhirat, kelapangan rezeki, serta perlindungan dari berbagai bala dan musibah yang mungkin terjadi.
Selain itu, doa juga dipanjatkan untuk memohon ampunan bagi keluarga yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia, agar seluruhnya mendapatkan rahmat dan perlindungan dari Allah SWT.
Menariknya, dalam tradisi masyarakat setempat, biasanya doa dipimpin oleh laki-laki, khususnya tokoh agama atau aparat masjid yang juga kerap melayani permintaan warga. Namun dalam praktiknya, masyarakat juga saling membantu, sehingga kehadiran Ibu Sitti Ruqiah sebagai pemimpin doa menjadi bagian dari kebersamaan dalam melayani kebutuhan spiritual warga.
Bahkan, sudah menjadi kebiasaan di tengah masyarakat, hidangan yang telah disiapkan tidak langsung dikonsumsi sebelum didoakan. Tradisi ini mencerminkan kuatnya keyakinan warga terhadap pentingnya doa sebagai pembuka keberkahan sekaligus perlindungan dari segala bala.
Nilai tersebut sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya bersyukur atas nikmat. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa siapa yang bersyukur, maka nikmatnya akan ditambah, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Ibrahim ayat 7.
Selain itu, umat Islam juga diperintahkan untuk mengonsumsi rezeki yang baik dan mensyukurinya, sebagaimana termaktub dalam QS Al-Baqarah ayat 172.
Dalam ajaran Rasulullah SAW, memuji Allah atas makanan yang dikonsumsi juga menjadi amalan yang dianjurkan. Dalam sebuah hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa Allah ridha kepada hamba yang memuji-Nya setelah makan.
Sementara itu, dalam sebuah riwayat, Imam Ja’far Ash-Shadiq menyebutkan bahwa doa dapat menolak bala, baik yang telah ditetapkan maupun yang belum terjadi.
Sebagai ibu dari lima anak dan nenek dari sembilan cucu, Ibu Sitti Ruqiah mengaku kebiasaan ini telah lama ia jalani. Meski bukan tokoh masyarakat, ia aktif belajar di lingkungan perguruan spiritual dan kerap diminta oleh keluarga, kerabat, hingga tetangga untuk memimpin doa dalam berbagai kesempatan.
Tradisi sederhana ini menjadi cerminan nilai spiritual yang hidup di tengah masyarakat—bahwa Idul Fitri bukan hanya tentang hidangan, tetapi juga tentang syukur, doa, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik serta terhindar dari segala bala.
Share this content:



Post Comment